Kamis, 18 Juni 2009

William James Sidis Manusia Terpintar Di Dunia?

Siapakah manusia terjenius yang pernah dimiliki dunia? Da Vinci? John
Stuart Mills? Atau Albert Einstein seperti yang selama ini diperkirakan
orang?
Ketiganya memang dianggap jenus-jenius besar yang telah memberikan
banyak pengaruh terhadap bidangnya masing-masing. Tapi gelar manusia
terjenius yang pernah dimiliki dunia rasanya tetap layak diberikan kepada
William James Sidis. Siapakah ia? Mengapa namanya tenggelam dan kurang
dikenal walau angka IQnya mencapai kisaran 250–-300?

http://g-ecx.images-amazon.com/images/G/01/ciu/9b/01/87f5b220dca0900c4fa76010.L._AA240_.jpg

Keajaiban Sidis diawali ketika dia bisa makan sendiri dengan menggunakan
sendok pada usia 8 bulan. Pada usia belum genap 2 tahun, Sidis sudah
menjadikan New York Times sebagai teman sarapan paginya.

http://jerrypunk.files.wordpress.com/2008/11/sidis.jpg

Semenjak saat itu namanya menjadi langganan headline surat kabar : menulis beberapa buku
sebelum berusia 8 tahun, diantaranya tentang anatomy dan astronomy. Pada
usia 11 tahun Sidis diterima di Universitas Harvard sebagai murid termuda.
Harvardpun kemudian terpesona dengan kejeniusannya ketika Sidis memberikan
ceramah tentang Jasad Empat Dimensi di depan para professor matematika.
Lebih dasyat lagi : Sidis mengerti 200 jenis bahasa di dunia dan bisa
menerjamahkannya dengan amat cepat dan mudah. Ia bisa mempelajari sebuah
bahasa secara keseluruhan dalam sehari !!!!

Keberhasilan William Sidis adalah keberhasilan sang Ayah, Boris Sidis yang
seorang Psikolog handal berdarah Yahudi. Boris sendiri juga seorang
lulusan Harvard, murid psikolog ternama William James (Demikian ia
kemudian memberi nama pada anaknya) Boris memang menjadikan anaknya
sebagai contoh untuk sebuah model pendidikan baru sekaligus menyerang
sistem pendidikan konvensional yang dituduhnya telah menjadi biang keladi
kejahatan, kriminalitas dan penyakit. Siapa yang sangka William Sidis
kemudian meninggal pada usia yang tergolong muda, 46 tahun - sebuah saat
dimana semestinya seorang ilmuwan berada dalam masa produktifnya. Sidis
meninggal dalam keadaan menganggur, terasing dan amat miskin. Ironis.

Orang kemudian menilai bahwa kehidupan Sidis tidaklah bahagia. Popularitas
dan kehebatannya pada bidang matematika membuatnya tersiksa.

http://www.sidis.net/wjsdrawing1.jpg

Beberapa tahun sebelum ia meninggal, Sidis memang sempat mengatakan kepada pers
bahwa ia membenci matematika - sesuatu yang selama ini telah melambungkan
namanya. Dalam kehidupan sosial, Sidis hanya sedikit memiliki teman.
Bahkan ia juga sering diasingkan oleh rekan sekampus. Tidak juga pernah
memiliki seorang pacar ataupun istri. Gelar sarjananya tidak pernah
selesai, ditinggal begitu saja. Ia kemudian memutuskan hubungan dengan
keluarganya, mengembara dalam kerahasiaan, bekerja dengan gaji seadanya,
mengasingkan diri. Ia berlari jauh dari kejayaan masa kecilnya yang
sebenarnya adalah proyeksi sang ayah. Ia menyadarinya bahwa hidupnya
adalah hasil pemolaan orang lain. Namun, kesadaran memang sering datang
terlambat





Mengharukan memang usaha Sidis. Ada keinginan kuat untuk lari dari
pengaruh sang Ayah, untuk menjadi diri sendiri. Walau untuk itu Sidis
tidak kuasa. Pers dan publik terlanjur menjadikan Sidis sebagai sebuah
berita. Kemanapun Sidis bersembunyi, pers pasti bisa mencium. Sidis tidak
bisa melepaskan pengaruh sang ayah begitu saja. Sudah terlanjur tertanam
sebagai sebuah bom waktu, yang kemudian meledakkan dirinya sendiri


15 Comments:

Anonim said...

Cerdas IQ belum tentu cerdas EQ apalagi SQ. Pintar secara akademis tak menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Anonim said...

mendingan lah, drpd yg komen, blum tentu iq eq dan sq nya bagus

Anonim said...

jangan berpikir paradoks lah, kalo orang lain ga boleh menilai, anda juga ga berhak menilai orang lain.

Anonim said...

yang penting qt bisa belajar dari kisah tersebut...

Anonim said...

ambil hikmahnya saja,ga perlu menjudge dia begini atw begitu...

Anonim said...

DASAR GOBLOK LOE PADE

Anonim said...

In 1946, Abraham Sperling did not tell the truth about the test, then none of what he wrote can be trusted as factual, which also negates the 250-300 IQ claim for both Sperling and The Prodigy. Read more at http://www.thelogics.org/thelogicswilliamsidissmartestmanonearth.html

Anonim said...

akh ari sia beungeutttttt,,,,,

montong loba omong, teleg weh ku sia,,,,
baca magh baca we thu euy kehed,,,,

Anonim said...

Siapa sih yang tidak bangga mempunyai anak yang pintar dan cerdas? pastinya merupakan kebahagiaan tersendiri bagi orang tua, seperti mendapat ranking 1 dikelasnya, karena anak itu adalah anugrah dari Tuhan yang harus selalu disyukuri.

Anonim said...

sya tetap mengagumi sosok William James Sidis,,

steven said...

anonim berkata, "ambil hikmahnya saja,ga perlu menjudge dia begini atw begitu..."
betul..betul..betul..
satuju pisan...

Anonim said...

Wah,,it's so amazing!!!!!
Seandainya saja beliau masih hidup,pasti beliau akan lebih diakui oleh dunia dan mungkin bisa membantu ilmuwan untuk memecahkan kasus2 sulit seperti memecahkan misteri ruang antar waktu yang dicetuskan oleh Albert Einstein.Semoga saja ada penerus beliau dan semoga penerus tersebut anak2 Indonesia dan tentunya beragama Islam.Amien.

Anonim said...

kae keto'e koyok babi, jebul tak sawang-sawang babi tenaaaan.......................

Anonim said...

islam.?yg berkaitan dikit dong setan..fanatik skaligus primitif!

Anonim said...

Terimakasih infonya

Posting Komentar